Aku tinggal di Perumahan Griya Indah.
Keluargaku baru dua bulan tinggal di Perumahan Griya Indah. Warga Perumahan
Griya Indah ternyata sangat beragam, baik suku bangsa, agama, maupun profesi
warganya. Namun, kebersamaan selalu mewarnai setiap kehidupan sehari-hari.
Sungguh kami tidak menduga kedatangan kami
disambut oleh warga perumahan. Dua hari sebelum kami pindah, ayahku sudah lapor
kepada ketua RW. Mungkin karena itulah kami mendapat sambutan dari warga
perumahan. Ada acara sederhana menyambut kedatangan kami.
”Selamat datang Pak Hary dan keluarga.
Selamat bergabung di Perumahan Griya Indah. Semoga Pak Hary dan keluarga bisa
segera berbaur dengan kami, warga yang sudah lebih dahulu menjadi penghuni
Perumahan Griya Indah,” sambut Pak Arif, selaku Ketua RW.
”Terima kasih, Pak. Kami sungguh tidak
menyangka akan mendapat sambutan yang begitu ramah dari semua warga. Kami
berjanji akan membaur menjadi warga Perumahan Griya Indah ini. Semoga kehadiran
kami di sini diterima dengan baik.”
Setelah itu, satu per satu para warga
bersalaman dengan kami. Tidak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, tetapi ada juga
remaja dan anak-anak yang ikut dalam penyambutan kami. Tiba-tiba saja rasa haru
menyeruak dalam hati mendapat sambutan yang begitu hangat.
Hari itu juga aku berkenalan dengan beberapa
teman. Ada Kemal, Entin, Bram, Tiur, Ronal, Melani, dan masih banyak lagi. Dari
namanya aku menduga mereka berasal dari suku bangsa berbeda. Ternyata dugaanku
tidak salah. Kemal bersuku bangsa Madura. Entin bersuku bangsa Sunda. Bram
berasal dari Maluku. Tiur dari Batak. Ronal dari Minahasa. Melani seorang anak
Tionghowa.
Pada hari itu juga kami menata rumah dibantu
oleh para warga. Pekerjaan berat menjadi ringan dikerjakan bersama-sama. Dengan
bantuan warga, rumah baru kami menjadi tertata. Semua barang sudah diletakkan
di tempat yang sesuai. Kami tinggal menata perlengkapan pribadi kami
masing-masing. Di Perumahan Griya Indah ini ada sanggar seni. Anggotanya adalah
para remaja dan anak-anak. Di sanggar seni ini ada kegiatan menari dan bermain musik.
Ada tarian Jawa, Sunda, dan Bali yang diajarkan di sanggar seni tari.
Ada angklung dan kulintang yang diajarkan di
sanggar seni musik. Aku pun menjadi anggota sanggar seni. Aku memilih belajar
tari Bali. Sementara itu, kakakku menjadi anggota kesenian kulintang. Kami
berasal dari Jawa. Namun, kami tidak hanya ingin mempelajari budaya Jawa. Kami
juga ingin mempelajari seni dari suku bangsa lain.
Selama dua bulan aku belajar tari Pendet,
tarian terkenal dari Pulau Dewata. Selain aku ada beberapa teman yang belajar
tari Pendet. Melani salah satunya. Aku kagum dengan Melani, ternyata ia sangat
luwes menari. Kerling mata dan gerakan-gerakan tangan dan kakinya sangat indah
dan serasi.
Bulan Agustus pun segera tiba. Seperti di
tempat-tempat lain, warga Perumahan Griya Indah pun sibuk mempersiapkan
peringatan HUT RI yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus. Ada beberapa
kegiatan dan acara yang akan dilaksanakan di Perumahan Griya Indah. Semua warga
akan terlibat dalam acara tersebut.
Puncak dari semua kegiatan itu adalah Pentas
Seni dan Pesta Warga. Dalam acara tersebut akan ditampilkan berbagai kesenian
yang ditekuni warga perumahan. Aku dan kakakku juga akan tampil. Aku akan
menarikan tari Pendet bersama beberapa temanku. Kakakku dan teman-temannya akan
memainkan musik kolintang untuk mengiringi beberapa warga menyanyi. Pesta
rakyat yang dimaksud adalah makan bersama seluruh warga perumahan. Menu yang
disajikan juga makanan tradisional.
Yang unik dari acara ini adalah semua warga
diminta mengenakan baju adat daerah masing-masing. Berhubung keluargaku bersuku
Jawa, tepatnya Jawa Tengah, keluargaku mengenakan baju adat Jawa. Keluargaku
jarang mengenakan pakaian adat. Biasanya ayah dan ibu hanya mengenakan pakaian adat
pada acara-acara tertentu.
makanan khas daerah asal. Setiap keluarga
bisa membawa sendiri atau bersama-sama dengan tetangga sesuku. Keluargaku
mendapat bagian membawa makanan kecil. Ibuku lalu membawa kue wajik dan sosis
solo, makanan khas Jawa Tengah.
Tepat pukul 19 acara Pentas Seni dan Pesta
Rakyat dimulai. Acara dibuka dengan sambutan ketua RW, kemudian dilanjutkan
dengan acara pentas seni. Ada tarian, ada nyanyian, ada permainan alat musik,
bahkan ada pantomim dan pembacaan puisi. Semua hiburan dibawakan oleh warga.
Pada sela-sela acara, sambil menikmati pertunjukan, kami minum dan makan
makanan kecil yang tersedia.
Satu demi satu kesenian telah ditampilkan.
Puncak dari semua acara tersebut adalah makan malam bersama. Sebelumnya, ketua
RW mengajak kami menyanyi bersama. Sambil bergandengan tangan dan diiringi
musik kulintang, kami menyanyikan lagu ”Satu Nusa Satu Bangsa”. Lagu yang
menggambarkan kesatuan bangsa Indonesia walaupun berbeda-beda. Berbagai
perasaan berkecamuk dalam hati, antara haru, bangga, dan syukur berpadu menjadi
satu. Sungguh indah perbedaan di antara kami. Betapa indahnya kebersamaan yang
kami lakukan di antara berbagai perbedaan.
***
No comments:
Post a Comment